Ada “Pungli” SIM di Satpas Bekasi Kota, Ini Biaya yang Dipatok
JAKARTA–TOP VIRAL- Satuan Penyelenggaraan Administrasi Surat Ijin Mengemudi (Satpas SIM) kembali diterpa isu tak sedap. Dugan pungutan liar penerbitan SIM kembali terjadi. Meski berbagai upaya pembenahan dan inovasi telah dilakukan untuk memberantasnya.
Bersih dari pungutan liar (pungli), hanya isapan jempol saja. Maraknya pungli diduga ada oknum petugas bermain secara terselubung.
Jika sepakat bayar sesuai harga yang dipatok calo, semua urusan jadi mudah. Pemohon SIM tidak perlu lagi mengikuti tes teori atau pun uji praktek ketererampilan berkendara yang penerapan dipermudah. Pemohon yang sanggup keluarkan biaya melebihi biaya resmi tinggal duduk santai, SIM pun sudah jadi.
“Tadi saya bayar Rp 800 ribu untuk SIM A. Saya hanya diminta beberapa lembar fotocopy KTP, tingal foto, sidik jari, SIM langsung jadi. ” Kalau soal ujian teori dan praktek, saya tidak ikut, kan sudah bayar,” terang pemohon SIM warga Kampung Pamahan – Jatiasih – Bekasi
Alasan Tarmah menempuh “jalan belakang” alias menggunakan jasa calo, lantaran mudah dan tak bertele-tele.
“Kita datang serahkan KTP dan uang, lalu foto, selesai. Kalau ikut prosedural yang resmi, kemungkinannya nggak akan lulus. Bisa bolak ballik, buang-buang waktu, SIM pun tak jadi-jadi,” ujarnya.
Apa yang dilakukan Tarmah tak jauh beda dengan yang dilakoni pemohon SIM lainnya. Aditya, bercerita, awalnya dia ditawari bantuan dua petugas yang ada di pintu masuk Satpas.
“Sudah ada yang bantu ? Kalau belum biar kami bantu,” kata petugas, menawarkan Solusi.
Gayung bersambut, setelah Aditya mengiyakan, sang petugas langsung menghubungi oknum ordal (orang dalam). Selanjutnya, ada negosiasi soal harga. Setelah itu Aditya langsung ikut sesi foto, sidik jari, lalu duduk menunggu. Tak sampai dua jam SIM sudah jadi.
“Memang pilihan paling bijak ya minta bantuan calo. Pertimbangannya,ya, itu agar urusan lebih cepat dan tak berbelit-belit. Kita tak perlu antre, walaupun biaya jauh lebih mahal dari harga normal,” kata Aditya.
Beberapa pemohon SIM lainnya mengatakan hal yang sama. Mereka memilih menggunakan jasa calo karena tidak yakin bakal lulus jika mengurus SIM sendiri.
“Ini kan bukan cerita baru pak, kalau mengurus SIM sendiri, hasilnya mudah ditebak, tidak akan lulus. Lalu kita disuruh mengulang dan mengulang lagi. Capek,” kata Aditya.
Salah seorang calo yang ditemui di lokasi , sebut saja namanya Bebeng, bahkan meng-klaim, justru saat ini keberadaan calo saat ini justru sangat dibutuhkan warga pemohon SIM.
“Memang masih ada yang mencoba mengurus sendiri, kan biayanya lebih murah. Tapi biasanya tak ada yang langsung lulus. Kebanyakan dinyatakan gagal saat ujian praktek. Kalau pun dibuat perbandingannya, mungkin hanya satu berbanding seribu yang lulus,” katanya.