Program Nikah Massal Yang digagas Kemenag Jadi Sorotan Utama.
Jakarta, TopViral — Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia meluncurkan serangkaian program monumental dalam rangka menyambut 1 Muharam 1447 H. Dipimpin langsung oleh Menteri Agama, inisiatif ini menjadi bagian dari gerakan nasional yang tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga sosial dan ekologis.
Program nikah massal yang digagas Kemenag menjadi sorotan utama. Antusiasme masyarakat terhadap program ini sangat tinggi, karena seluruh biaya pernikahan ditanggung pemerintah, mulai dari mas kawin, busana, hingga hotel dan bimbingan pranikah.
“Bayangkan, dua juta orang menikah tiap tahun. Jika masing-masing butuh minimal Rp5 juta, maka total kebutuhan mencapai Rp10 triliun. Dengan nikah massal, mereka yang kesulitan finansial terbantu, dan terhindar dari perzinahan,” ungkap Menag.
Kegiatan Lebaran Yatim juga menjadi bagian penting dari gebrakan ini. Total dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp309 miliar, dan disalurkan kepada jutaan anak yatim di seluruh Indonesia.
“Ini bukan hanya simbolis. Dana tersebut benar-benar sampai ke anak-anak yatim. Bahkan saya pastikan sendiri mereka benar-benar yatim,” kata Menag.
Tak hanya itu, program khitanan massal gratis di Masjid Istiqlal juga akan digelar.
Kemenag juga memperkuat Gerakan Sadar Pencatatan Nikah, untuk memastikan masyarakat memiliki akta nikah, yang menjadi dasar memperoleh dokumen kependudukan seperti KK, KTP, hingga paspor.
“Tanpa akta nikah, tidak ada akta kelahiran. Tanpa akta kelahiran, tidak ada KK. Tanpa KK, tidak ada KTP. Tanpa KTP, tak bisa buat paspor, dan tak bisa naik haji,” jelas Menag.
Kemenag juga memulai gerakan nasional penanaman satu juta pohon melalui program “Satu Pengantin, Satu Pohon”. Diharapkan setiap pasangan yang menikah turut menanam pohon sebagai bentuk kontribusi terhadap lingkungan.
“Bayangkan dua juta orang menikah setiap tahun. Jika masing-masing menanam satu pohon, maka ada dua juta pohon baru. Ini bentuk nyata gerakan ekoteologi,” tambahnya.
Penilaian juga akan dilakukan terhadap pondok pesantren, masjid, kantor Kemenag, dan kampus yang paling hijau, sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat pelestarian lingkungan.
Konsep ekoteologi yang diluncurkan Kemenag telah mendapatkan perhatian dunia internasional. Pendekatan berbasis teologi ini dinilai lebih menyentuh kesadaran masyarakat dibanding bahasa politik atau administratif.
“Bahasa agama lebih menyadarkan masyarakat dalam menjaga lingkungan dibandingkan bahasa formal negara,” kata Menag.
Menag juga menyampaikan kabar baik dari penyelenggaraan ibadah haji 2025, yang untuk pertama kalinya mencatat penurunan biaya haji. Walaupun sempat ada kendala awal, namun penyelenggaraan berakhir dengan baik dan mendapat apresiasi dari pemerintah Arab Saudi.
Dalam pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), berbagai agenda strategis dibahas, termasuk kemungkinan pendirian “Kampung Haji” di Arab Saudi.
“Dalam sehari ada empat kali pertemuan. Semua sangat produktif dan membawa harapan besar bagi umat Islam Indonesia,” tutur Menag.
Di akhir pernyataannya, Menteri Agama menyampaikan optimisme terhadap masa depan pelayanan umat di Indonesia:
“Insya Allah, tahun-tahun mendatang Kemenag akan terus menghadirkan kejutan-kejutan produktif yang bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia.” (Syney)