Latar Belakang Sosial Tak Jadi Penghalang untuk Berprestasi: Adnan, Anak Kuli Bangunan Raih Predikat Ati Trengginas di Akpol Batalyon Ksatriya Hawin Sarwahita

SEMARANG – TOPVIRAL – Upacara Penutupan Pendidikan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan ke-58/Batalyon Ksatriya Hawin Sarwahita menjadi momen bersejarah bagi 282 calon perwira remaja Polri yang resmi menyelesaikan pendidikan.

Di balik prosesi tersebut, muncul kisah inspiratif tentang perjuangan dan kesempatan yang setara melalui sosok Adnan Kasweri, putra seorang kuli bangunan asal Bangka Belitung.

Adnan berhasil meraih predikat Ati Trengginas, penghargaan yang diberikan kepada taruna dengan ketangguhan fisik dan mental terbaik.

Ia mencatatkan nilai jasmani dan kesehatan kelulusan sebesar 93,64, mengungguli peserta lainnya.
Penghargaan itu diumumkan dalam Upacara Penutupan Pendidikan yang dipimpin Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo di Lapangan Bhayangkara, Akademi Kepolisian, Semarang, Jumat (10/7).

Perjalanan Adnan menuju Akpol dimulai dari proses seleksi berjenjang pada 2023, mulai dari panitia daerah di Polda Kepulauan Bangka Belitung hingga panitia pusat yang diselenggarakan SSDM Polri.

Di balik keberhasilannya, terdapat dukungan penuh sang ayah, Sudaryo, yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan.

Meski menghadapi keterbatasan ekonomi, Sudaryo mengaku tetap optimistis karena meyakini proses rekrutmen Polri dilaksanakan secara bersih, transparan, akuntabel, dan humanis.

“Saya mengikuti proses anak saya dari awal sampai akhir. Walaupun dengan segala keterbatasan, saya yakin proses rekrutmen ini benar-benar asli dan murni. Itulah yang saya rasakan,” ujar Sudaryo.

Adnan mengungkapkan bahwa dirinya sempat merasa minder karena latar belakang keluarganya sebagai buruh harian. Namun, motivasi yang diberikan para pimpinan Polri saat proses seleksi mengubah rasa rendah dirinya menjadi keyakinan untuk menunjukkan kemampuan terbaik.

Saat itu, Komjen Pol. Syahardiantono yang menjabat Kadiv Propam Polri dan Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo yang menjabat As SDM Kapolri memberikan pesan agar dirinya tidak pernah merasa rendah diri karena profesi orang tua.

“Saya sempat minder karena orang tua saya buruh harian. Tapi saya diberi semangat agar tidak minder dan diminta menunjukkan kemampuan yang saya miliki. Saya hobi bermain bola voli, dan saat itu saya menunjukkan kemampuan saya,” kata Adnan.

Menurut Adnan, dukungan tersebut menjadi titik balik yang menguatkan tekadnya untuk terus berjuang hingga berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih penghargaan sebagai taruna dengan ketangguhan fisik dan mental terbaik.

Kisah Adnan menjadi cerminan bahwa latar belakang sosial maupun ekonomi tidak menjadi penghalang untuk meraih cita-cita.

Melalui sistem rekrutmen Polri yang mengedepankan prinsip BETAH (Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis), setiap putra-putri bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi anggota Polri berdasarkan kemampuan, integritas, dan prestasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *