Jakarta,Topviral.id — Tokoh spiritual Indonesia Sri Eko Sriyanto Galgendu menyerahkan sebuah karya spiritual bertajuk KITAB MA HA IS MA YA kepada Ketua Umum Forum Pemimpin Redaksi Media Siber Indonesia (Forum Pemred SMSI), Dar Edi Yoga, dalam pertemuan yang berlangsung pada Rabu malam (14/1/2026).

KITAB MA HA IS MA YA merupakan hasil monolog spiritual yang ditulis selama kurang lebih 20 jam tanpa henti, dan disebut sebagai salah satu karya spiritual dengan proses penulisan tercepat dalam perjalanan spiritual modern. Kitab setebal sekitar 300 halaman ukuran A5 ini ditulis menggunakan teknologi digital, berisi rangkaian doa, syair, serta ayat-ayat yang disebut sebagai Bahasa Bumi (BhaHasa BhuMi).
Menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, BhaHasa BhuMi adalah bahasa jiwa yang merekam hubungan manusia (Ma Nuh Sa) dengan tanah dan bumi tempat ia dilahirkan dan hidup. Ia menegaskan bahwa bumi bukanlah entitas pasif, melainkan memiliki daya ingat atas perilaku, kesadaran, dan tanggung jawab manusia.
“Bumi mencatat hidup dan kehidupan manusia. Apa yang ditanam dalam laku, akan kembali dalam makna,” ujar Eko Galgendu.
Ia menjelaskan, kitab tersebut merupakan rangkuman dari 29 tahun perjalanan pembelajaran tanggung jawab spiritual, sekaligus bagian dari laku panjang yang ia sebut Puasa Pala, terinspirasi dari laku Puasa Mahapatih Gajah Mada—yakni puasa untuk tidak menikmati hasil dari apa yang telah diperjuangkan demi masyarakat, bangsa, dan negara.
KITAB MA HA IS MA YA memuat 79 doa spiritual yang merefleksikan tanggung jawab hidup manusia, serta menjadi panduan menemukan apa yang disebut sebagai “Ayat Diri”, yakni kesadaran tentang jati diri manusia sebagai makhluk spiritual sekaligus sosial. Menurut Eko Galgendu, pemahaman terhadap Ayat Diri merupakan buah dari perjalanan hidup itu sendiri.
Dalam konteks peradaban, lahirnya kitab ini berangkat dari refleksi panjang tentang krisis nilai, kepemimpinan, dan masa depan bangsa. Ungkapan Muhammad Habib Chirzin pada Mei 2025, “Sudah waktunya seperti Semar Mbabar Kahayangan,” disebut menjadi salah satu penanda spiritual lahirnya karya tersebut.
Secara khusus, KITAB MA HA IS MA YA dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan spiritual kepada Alm. Sri Susuhunan Pakubuwana XII dan Alm. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang dipandang Eko Galgendu sebagai figur keteladanan hingga batas akhir hayat dan akhirat.
Sementara itu, Dar Edi Yoga menyambut karya tersebut sebagai refleksi spiritual yang memiliki keterkaitan kuat dengan khazanah peradaban Nusantara. Sebagai pengamat spiritual yang selama ini menaruh perhatian pada kajian Gunung Padang, ia menilai gagasan Bahasa Bumi sejalan dengan pesan-pesan peradaban yang tersimpan di situs megalitik tersebut.
“Gunung Padang mengajarkan bahwa peradaban besar lahir dari kesadaran, tanggung jawab, dan hubungan manusia dengan tanahnya. Dalam konteks itu, kitab ini berbicara dalam frekuensi yang sejalan,” kata Dar Edi Yoga.
Ia menambahkan, narasi spiritual yang menghubungkan manusia, bumi, dan tanggung jawab peradaban menjadi sangat relevan di tengah krisis moral dan ekologis global. Pembacaan ulang nilai-nilai spiritual Nusantara, menurutnya, penting agar manusia modern tidak tercerabut dari akar kesadarannya.
Penyerahan KITAB MA HA IS MA YA ini tidak sekadar menjadi peristiwa simbolik, tetapi juga membuka ruang dialog tentang spiritualitas, peradaban, dan makna kepemimpinan di Indonesia—di tengah zaman yang bergerak semakin cepat, namun kerap kehilangan arah batin.
Redaksi: Wahabsyah
