Aritmatika Baru Perang: Murah Memulai, Mahal Mengakhiri
Oleh: Laksamana Sukardi
Perang modern sedang mengalami perubahan mendasar. Jika dulu kekuatan militer ditentukan oleh mahal dan langkanya teknologi canggih, kini justru sebaliknya: kehancuran bisa diproduksi secara murah dan massal.
Seperti disoroti Fareed Zakaria, senjata presisi tak lagi eksklusif milik negara besar. Drone murah kini mampu menantang sistem pertahanan bernilai jutaan dolar. Dalam logika baru ini, perang berubah dari soal kualitas menjadi soal kuantitas.
Pandangan Michael C. Horowitz tentang precise mass menegaskan bahwa keunggulan kini ditentukan oleh produksi cepat, murah, dan cukup efektif—bukan lagi teknologi paling mahal.
Dampaknya jelas: perang menjadi lebih mudah dimulai, tetapi jauh lebih sulit dihentikan. Aktor non-negara seperti Hezbollah dan Houthi movement ikut memperumit konflik yang kian terfragmentasi.
Dalam konteks Amerika–Israel vs Iran, ini berarti konflik berpotensi panjang dan melelahkan secara ekonomi global. Ironisnya, murah di awal bisa menjadi sangat mahal di akhir.
Di tengah semua itu, hanya satu yang tetap konstan: nuklir. Mahal, eksklusif, dan menjadi batas terakhir ketika semua opsi lain gagal.
Masalahnya sederhana—kita semakin mudah memulai perang, tetapi belum pernah benar-benar belajar cara mengakhirinya.
Dan ketika perang menjadi murah, yang menjadi mahal adalah stabilitas.