Universitas Paramadina Soroti Tekanan Pasar Modal, Reformasi Tata Kelola Dinilai Mendesak
Jakarta,Topviral.id— Universitas Paramadina menggelar diskusi panel bertajuk “Prospek dan Arah Pasar Modal Indonesia Pasca MSCI dan Moody’s” secara daring, Rabu (18/2/2026). Forum tersebut membahas kondisi terkini pasar modal nasional di tengah tekanan arus keluar modal asing dan sorotan lembaga pemeringkat internasional.
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai pasar modal merupakan indikator sensitif terhadap dinamika ekonomi global. Ia menyebut evaluasi yang dilakukan MSCI terhadap pasar Indonesia menjadi sinyal perlunya pembenahan ekosistem ekonomi dan tata kelola. Menurutnya, kepercayaan investor sangat dipengaruhi kredibilitas kebijakan fiskal dan konsistensi regulasi.
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memaparkan data bahwa portofolio investasi Indonesia tercatat negatif sebesar 14 miliar dolar AS sejak 2025 hingga kuartal III-2026. Ia juga menyinggung penurunan outlook oleh Moody’s pada awal Februari yang dikaitkan dengan aksi sovereign selling. Menurutnya, tantangan utama terletak pada aspek tata kelola, risiko fiskal, serta kepastian kebijakan.
Di sisi lain, CEO Investortrust Primus Dorimulu menyampaikan pandangan berbeda. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat, tercermin dari pertumbuhan PDB kuartal IV-2025 sebesar 5,39 persen. Kebijakan pemerintah, termasuk langkah injeksi likuiditas ke sektor perbankan, dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas di tengah tekanan global.
Menanggapi dinamika tersebut, pemerintah disebut tengah menyiapkan sejumlah langkah reformasi, antara lain peningkatan batas minimum kepemilikan saham publik (free float), transparansi Ultimate Beneficial Ownership (UBO), serta penguatan penegakan hukum dan sinergi antarotoritas. Upaya tersebut diharapkan dapat memulihkan kepercayaan investor dan memperkuat daya tahan pasar modal nasional.
Red:Wahabsyah