Ditjenpas Targetkan UMKM Lapas Tak Hanya Sekadar Pembinaan, Tapi Berkembang sebagai Kekuatan Ekonomi Berkelanjutan

0

BOGOR – TOP VIRAL- Ditjenpas mendorong perubahan pendekatan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) dari yang selama ini bersifat administratif menjadi lebih produktif dan terintegrasi secara ekonomi.

Penegasan itu disampaikan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, saat meninjau Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Sabtu (21/3).

Kunjungan tersebut dilakukan usai dirinya mewakili pemerintah dalam pembacaan remisi Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Namun agenda tidak berhenti pada seremoni.

Mashudi langsung meninjau sejumlah unit usaha yang dikelola WBP, mulai dari peternakan hingga produksi sarana pendukungnya.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah produksi kandang baterai ayam petelur. Di lokasi tersebut, Mashudi tidak hanya mengamati proses produksi, tetapi juga menginisiasi jejaring distribusi antar-lembaga pemasyarakatan.
Ia meminta seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang memiliki usaha peternakan ayam petelur untuk memprioritaskan penggunaan kandang produksi Gunung Sindur.

“Ini harus terhubung. Produksi di satu tempat harus diserap oleh yang lain. Kalau itu berjalan, perputaran ekonomi antar-lapas akan hidup,” ujar Mashudi.

Selain itu, ia juga meninjau peternakan ayam petelur serta fasilitas pengolahan gabah menjadi beras. Menurutnya, potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di dalam lapas cukup besar, namun selama ini belum dikelola dalam satu sistem yang saling menopang.

Mashudi menilai kendala utama bukan terletak pada kapasitas produksi, melainkan pada distribusi dan pemasaran. Ia mendorong sinkronisasi kebutuhan antar-UPT guna menciptakan ekosistem ekonomi internal yang stabil.

“Harus ada pengaturan. Wilayah tertentu mengambil beras dari sini, telur dari sini, tempe dari sini. Kalau rantai ini terbentuk, ekonominya akan bergerak,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah produk WBP telah menembus pasar internasional, seperti cocopeat, sapu lidi, batik, tenun, hingga furnitur yang telah diekspor ke 24 negara di Eropa dan Asia.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya penguatan sistem agar kegiatan ekspor tidak bersifat sporadis.
Untuk mempercepat pengembangan, Ditjenpas menggandeng pihak ketiga guna meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperluas akses pasar.

Tantangan yang masih dihadapi, menurutnya, adalah konsistensi program di tiap UPT.

Mashudi menyoroti perlunya spesialisasi produksi agar setiap lapas memiliki identitas usaha yang jelas dan tidak berubah seiring pergantian pimpinan.

“Kita harus punya fokus. Ada yang khusus cocopeat, ada yang sapu lidi. Jadi berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Bambang Wijanarko, mengatakan permintaan terhadap kandang baterai ayam petelur masih melampaui kapasitas produksi.

Untuk memenuhi kebutuhan lima lapas saja, diperlukan sekitar 30 ton, sementara produksi saat ini belum mencukupi. Satu set kandang dijual sekitar Rp125 ribu, dengan kualitas yang dinilai mampu bersaing di pasar. “Permintaan tinggi, tapi produksi kami masih terbatas,” kata Bambang.

Ke depan, Ditjenpas menyiapkan pengembangan lapas terbuka sebagai pusat produksi skala besar. Salah satunya akan dibangun di Kendal, Jawa Tengah, dengan lahan sekitar 110 hektare yang difokuskan pada sektor perikanan dan pertanian terpadu.

Model serupa direncanakan diterapkan secara bertahap di daerah lain. Melalui integrasi produksi, distribusi, serta kolaborasi dengan mitra eksternal, Ditjenpas menargetkan UMKM di dalam lapas tidak hanya menjadi bagian dari pembinaan, tetapi juga berkembang sebagai kekuatan ekonomi baru yang berkelanjutan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.