Mayjen TNI. R Nugraha Gumilar Resmi Luncurkan Buku : Catatan Perjalanan Hidup Refleksi Mendalam Tentang Ikhtiar Manusia, Campur Tangan Tuhan
“Buku ini diharapkan Jadi Inspirasi luas. Tak hanya bagi kalangan militer, tetapi juga masyarakat umum, tentang makna ikhtiar, kepemimpinan, dan kepercayaan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada jalan yang dibukakan Tuhan.”
JAKARTA- TOP VIRAL-. ” Ikhtiar itu urusan manusia, sementara hasil adalah urusan Tuhan. Tuhan akan menunjuk manusia melalui manusia lain sebagai pembuka jalan hidup,” demikian disampaikan Mayjen TNI Dr. Nugraha Gumilar, dalam peluncuran buku berjudul “Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan”.
Acara peluncuran buku tersebut digelar di Gedung Universitas Pertahanan (Unhan), Lantai 8, Jalan Salemba, Jakarta, Jumat (27/1/2026). Buku yang di tulis oleh Mayjen TNI Dr. Nugraha Gumilar bukan hanya sekadar catatan perjalanan hidup, tetapi refleksi mendalam tentang ikhtiar manusia, campur tangan Tuhan, serta pentingnya relasi dalam membentuk jalan kehidupan.
Dr. Nugraha menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari keyakinan bahwa hidup adalah perpaduan antara usaha manusia dan kehendak Tuhan.
Menurutnya, manusia hanya bisa berikhtiar, sementara hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Tuhan.
“Buku ini saya tulis sebagai pengingat bahwa ikhtiar itu urusan manusia, sementara hasil adalah urusan Tuhan. Tuhan akan menunjuk manusia melalui manusia lain untuk membuka jalan hidup kita,” tuturnya.
Ia berharap, buku ini dapat menjadi inspirasi bagi pembaca untuk tidak mengabaikan hubungan dengan sesama, baik itu teman, senior, maupun anak buah. Menurutnya, setiap orang memiliki peran penting dalam perjalanan hidup seseorang, meski sering kali tidak disadari.
“Harapan saya dari buku ini adalah agar kita menyadari bahwa hidup itu siklus dan semua akan kembali kepada kita. Yang paling penting, hubungan dengan teman, senior, dan anak buah jangan pernah diabaikan, karena kita tidak tahu siapa yang Tuhan pilih untuk membuka jalan kita,” ungkap lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1989 dari kecabangan Zeni.
Dalam buku tersebut, Dr. Nugraha juga menceritakan salah satu fase paling berat dalam hidupnya. Pada 23 Januari 1980, tepat saat ia berulang tahun ke-12, ia masih sempat merayakan hari lahirnya bersama kedua orang tua kandungnya. Namun tak lama setelah itu, ia kehilangan kontak dengan orang tuanya, sebuah peristiwa yang membuat hidupnya terasa runtuh.
“Itu rasanya seperti dunia tergoncang, seperti mau kiamat. Orang tua saya tidak sakit, tidak ada persiapan apa pun. Dari situ saya belajar bahwa manusia itu penting satu sama lain. Kita lahir dibantu orang, dan kelak saat meninggal pun kita tetap dibantu orang,” ungkapnya dengan nada reflektif.
Peristiwa tersebut sempat membuatnya kehilangan arah. Namun dari titik terendah itulah, Nugraha mulai memahami makna kebersamaan, solidaritas, dan peran orang lain dalam membentuk kembali jalan hidupnya.
Keyakinan Tak Pernah Berjalan Sendiri
Dr. Nugraha menegaskan bahwa salah satu prinsip hidup yang ia pegang hingga kini adalah keyakinan bahwa manusia tidak pernah berjalan sendirian. Oleh karena itu, ia selalu berusaha membangun hubungan baik dengan siapa pun dan melakukan yang terbaik dalam setiap kesempatan.
“Saya meyakini selalu ada orang lain yang membantu saya. Kesulitan itu, tanpa saya sadari, selalu ada jalan yang terbuka. Jalan itu datang melalui orang-orang yang bahkan tidak saya kenal sebelumnya,” jelasnya.
Ia mencontohkan bagaimana anak buah memperkenalkannya kepada pimpinan, teman almarhum ayahnya yang membuka peluang, hingga teman bermain yang turut mempromosikan dirinya. Menurutnya, semua itu adalah bukti nyata bagaimana Tuhan bekerja melalui tangan-tangan manusia.
“Selama ini, mereka-mereka itulah dan Tuhan melalui tangan-tangan mereka yang membuka jalan hidup saya,” tambahnya.
Selain kisah spiritual dan perjalanan hidup, buku ini juga memuat pandangan Dr. Nugraha tentang kepemimpinan di dunia militer. Ia menekankan pentingnya ketegasan dan kepastian dalam organisasi, dengan prinsip yang tidak mengenal wilayah abu-abu.
Menurutnya, setiap kesalahan harus mendapat peringatan, sementara setiap prestasi wajib diberi penghargaan. Hal ini penting untuk menciptakan keadilan dan kepastian bagi anggota.
“Jangan sampai yang salah dibiarkan dan yang berprestasi juga dibiarkan. Itu tidak menciptakan kepastian dalam organisasi. Kalau anak buah diberi kepastian, mereka tahu batasan-batasannya,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya hati nurani dalam menerapkan sanksi. Hukuman, kata dia, harus mempertimbangkan dampak dan tujuan pembinaan, bukan sekadar formalitas.
“Ingat, satuan itu bukan karena pimpinan yang hebat, tetapi karena peran anak buah yang hebat. Anak buah harus disuport agar bisa berbuat baik dan maksimal di satuan tugasnya,” pungkas Nugraha.